Ekonomi Kelas XI • Fase F • Bab 4

Ketenagakerjaan

Pelajari konsep dasar ketenagakerjaan, klasifikasi jenis tenaga kerja, masalah ketenagakerjaan, kurva pasar tenaga kerja, sistem upah, outsourcing, hingga strategi penanganan pengangguran.

1
Landasan Teori

Konsep Dasar Ketenagakerjaan

Bagian A

Pengertian Dasar

Memahami istilah-istilah kunci dalam ketenagakerjaan sesuai peraturan dan terminologi ekonomi nasional.

Ketenagakerjaan

Segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.

Tenaga Kerja

Setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat (berusia 15–64 tahun).

Angkatan Kerja

Bagian dari tenaga kerja yang aktif secara ekonomi, mencakup penduduk yang sudah bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan (pengangguran).

Bukan Angkatan Kerja

Penduduk usia kerja yang tidak bekerja dan tidak sedang mencari kerja karena alasan tertentu (anak sekolah/kuliah, ibu rumah tangga, penerima pensiun/pendapatan tetap).

Kesempatan Kerja

Jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia di pasar kerja untuk menampung para pencari kerja (kesempatan untuk bekerja).

Bagian B

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

Rasio yang menunjukkan persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi (termasuk angkatan kerja).

Rumus Penghitungan TPAK

Persentase Partisipasi Angkatan Kerja
TPAK = (Jumlah Angkatan Kerja/Jumlah Tenaga Kerja (Penduduk Usia Kerja)) × 100%
Kalkulator Interaktif TPAK
Simulasi Penghitungan Mandiri
TPAK = 64.29%
2
Klasifikasi

Jenis-Jenis Tenaga Kerja

Kategori A

Berdasarkan Kualitas / Keahlian

Tenaga Kerja Terdidik (Educated Labor)

Memiliki keahlian dari pendidikan formal.

Contoh: Dokter, guru, pengacara, akuntan.

Tenaga Kerja Terlatih (Trained Labor)

Memiliki keterampilan yang diperoleh dari latihan atau pengalaman kerja.

Contoh: Sopir, penjahit, teknisi, koki.

Tidak Terdidik & Tidak Terlatih (Unskilled)

Bekerja mengandalkan tenaga fisik tanpa pendidikan khusus.

Contoh: Kuli bangunan, buruh angkut, pemulung.
Kategori B

Berdasarkan Sifat Pekerjaan

Tenaga Kerja Jasmani

Pekerjaan yang lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik.

Contoh: Buruh tani, pekerja konstruksi.

Tenaga Kerja Rohani

Pekerjaan yang lebih banyak mengandalkan pemikiran, gagasan, dan ide.

Contoh: Manajer, peneliti, konsultan.
Kategori C

Berdasarkan Hubungan Produk

Tenaga Kerja Langsung

Terlibat secara langsung dalam proses pembuatan produk.

Contoh: Buruh perakitan di pabrik.

Tenaga Kerja Tidak Langsung

Mendukung proses produksi tetapi tidak menyentuh pembuatan barang secara langsung.

Contoh: Manajer pabrik, staf pemeliharaan mesin.
3
Tantangan Nasional

Masalah Ketenagakerjaan

1. Ketidakseimbangan Angkatan Kerja

Jumlah angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja. Laju pertumbuhan penduduk tinggi tidak diimbangi pertumbuhan penyediaan lapangan kerja.

2. Kualitas Tenaga Kerja Rendah

Pendidikan formal dan keterampilan teknis yang dimiliki tenaga kerja belum memenuhi standar industri.

3. Persebaran Tidak Merata

Konsentrasi tenaga kerja menumpuk di pusat perkotaan/Pulau Jawa, sementara wilayah lain kekurangan pasokan tenaga kerja.

4. Tingkat Pengangguran Tinggi

Tingginya jumlah pencari kerja yang belum terserap di pasar kerja secara optimal.

5. Gaji / Upah Relatif Rendah

Tingkat upah di beberapa daerah belum mampu mencukupi standar hidup yang layak bagi pekerja.

6. Kesejahteraan & Perlindungan Minimal

Perlindungan hukum, jaminan keselamatan kerja, serta jaminan sosial yang belum optimal bagi para pekerja.

4
Mekanisme Pasar

Pasar Tenaga Kerja

A. Permintaan Tenaga Kerja (Demand for Labor)

Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pengusaha/perusahaan pada tingkat upah tertentu.

Sifat Permintaan: Berasal dari permintaan turunan (derived demand), artinya permintaan tenaga kerja bergantung pada permintaan barang/jasa yang dihasilkannya.

B. Penawaran Tenaga Kerja (Supply of Labor)

Jumlah tenaga kerja yang bersedia menawarkan tenaganya untuk bekerja pada tingkat upah tertentu.

  • Umumnya bergradien positif: semakin tinggi upah, semakin banyak jam kerja/tenaga kerja yang ditawarkan.
  • Kurva Penawaran Melengkung ke Belakang (Backward-Bending Supply Curve): Pada tingkat upah yang sangat tinggi, pekerja cenderung memilih waktu luang (leisure) dibanding menambah jam kerja.
Visualisasi Kurva Keseimbangan

C. Tingkat Output dan Keseimbangan Tenaga Kerja

Keseimbangan pasar tenaga kerja terjadi ketika Permintaan Tenaga Kerja (DL) berpotongan dengan Penawaran Tenaga Kerja (SL). Pada titik ini terbentuk Tingkat Upah Keseimbangan (We) dan Jumlah Pekerja Keseimbangan (Qe). Perusahaan akan menambah tenaga kerja sampai nilai produk marjinal tenaga kerja (VMPL = MPL x P) sama dengan tingkat upah (W).

Diagram Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja
Tingkat Upah (W) Jumlah Tenaga Kerja (Q) S_L (Penawaran) D_L (Permintaan) ← Titik Keseimbangan (E) X W_e Q_e
5
Pengembangan SDM

Upaya Meningkatkan Kualitas Tenaga Kerja

A. Peran Pemerintah

  • Menyelenggarakan Pelatihan Kerja Gratis melalui Balai Latihan Kerja (BLK).
  • Menyusun Kurikulum Pendidikan yang Berbasis Link and Match dengan dunia industri.
  • Meningkatkan standar kualitas mutu pendidikan nasional.
  • Menyediakan program pemagangan dalam/luar negeri.

B. Peran Perusahaan / Swasta

  • Mengadakan pelatihan internal (on-the-job training dan off-the-job training).
  • Memberikan beasiswa pendidikan/sertifikasi bagi karyawan.
  • Menyediakan fasilitas dan jenjang karier yang mendukung pengembangan potensi kerja.

C. Peran Individu

  • Meningkatkan kemampuan bahasa asing dan keterampilan digital/teknologi.
  • Mengikuti sertifikasi profesi secara mandiri.
  • Memiliki etos kerja tinggi, kedisiplinan, serta soft skills (komunikasi, kepemimpinan).
6
Kompensasi Kerja

Sistem Upah

Bagian A

Pengertian Upah dan Sistem Upah

Upah: Imbalan yang diterima oleh pekerja dari pengusaha atau pemberi kerja atas jasa yang telah dilakukan, dinyatakan dalam bentuk uang berdasarkan kesepakatan atau peraturan.
Sistem Upah: Metode atau cara penentuan besarnya kompensasi yang diberikan kepada pekerja.

Bagian B

Jenis-Jenis Sistem Upah

Upah Menurut Waktu

Dihitung berdasarkan durasi kerja (harian, mingguan, bulanan).

Upah Satuan / Hasil (Piece Rate)

Dihitung berdasarkan jumlah barang yang berhasil diproduksi.

Upah Borongan

Dihitung berdasarkan kesepakatan penyelesaian suatu pekerjaan hingga tuntas.

Sistem Bonus / Premi

Pembayaran ekstra di luar upah pokok berdasarkan pencapaian target perusahaan.

Upah Minimum (UMP / UMK)

Standar imbalan terkecil yang wajib dibayarkan pengusaha kepada pekerja untuk menjamin kehidupan layak.

Bagian C

Kenaikan Upah dan Upah Masa Depan

• Kenaikan upah dipengaruhi oleh tingkat inflasi, kenaikan produktivitas kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Upah Masa Depan (Future Wage): Tren pengupahan yang dipengaruhi oleh otomatisasi, kepemilikan modal teknologis, serta fleksibilitas pola kerja (seperti gig economy dan remote working).

7
Sistem Kerja Modern

Outsourcing (Alih Daya)

Bagian A

Pengertian Outsourcing

Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dari perusahaan pemborong/induk kepada perusahaan penerima pemborongan (penyedia jasa alih daya) melalui perjanjian tertulis.

Bagian B

Jenis Pekerjaan yang Dialiherdayakan

Biasanya terbatas pada pekerjaan penunjang (non-core business), seperti:

Cleaning Service
Security
Jasa Katering
IT Support & Call Center
Bagian C

Kelebihan dan Kekurangan Outsourcing

Sisi Kelebihan Kekurangan
Perusahaan Hemat biaya operasional, fokus pada bisnis utama (core business), proses rekrutmen lebih praktis. Rahasia perusahaan berisiko bocor, ketergantungan pada vendor.
Pekerja Membuka peluang kerja bagi lulusan baru / pengalaman minim. Kepastian karier rendah, potongan biaya agen, jenjang masa depan terbatas.
8
Dinamika Ketenagakerjaan

Pengangguran dan Penanganannya

Bagian A

Pengertian Pengangguran

Kondisi di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan, tetapi belum berhasil mendapatkannya.

Bagian B

Jenis-Jenis Pengangguran

1. Berdasarkan Penyebabnya:

Friksional

Terjadi karena tenggat waktu/proses pencarian kerja saat berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Struktural

Terjadi akibat perubahan struktur ekonomi (misal: dari agraris ke industri) sehingga keahlian pekerja tidak cocok lagi.

Siklis / Konjungtur

Terjadi akibat penurunan kegiatan ekonomi secara umum (resesi/krisis ekonomi).

Teknologis

Terjadi karena posisi manusia digantikan oleh mesin, otomatisasi, atau kecerdasan buatan.

Musiman

Terjadi akibat perubahan musim (contoh: petani pada masa jeda tanam).

2. Berdasarkan Sifatnya:

Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)

Sama sekali tidak bekerja dan sedang aktif mencari kerja.

Setengah Penganggur (Underemployed)

Bekerja tetapi jam kerjanya di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu).

Pengangguran Terselubung (Disguised)

Bekerja tetapi tidak optimal karena jumlah tenaga kerja melampaui kapasitas yang dibutuhkan.

Bagian C

Cara Mengatasi Pengangguran

Friksional

Menyediakan pusat informasi pasar kerja yang cepat, mudah, dan akurat (portal karir/bursa kerja).

Struktural

Mengadakan pelatihan ulang (retraining) dan sertifikasi keterampilan yang sesuai kebutuhan industri baru.

Siklis

Menerapkan kebijakan fiskal ekspansif (meningkatkan belanja pemerintah/proyek infrastruktur) untuk merangsang aktivitas ekonomi.

Musiman

Memberikan keterampilan sampingan (seperti kerajinan tangan/UMKM) di luar musim utama.

Bagian D

Usaha Memperluas Kesempatan Kerja

  • Mendorong kemudahan investasi asing maupun domestik.
  • Memberikan bantuan permodalan dan pelatihan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
  • Mengembangkan program padat karya dalam pembangunan proyek-proyek publik.
  • Mengirimkan tenaga kerja terampil ke luar negeri secara resmi (migrant workers).
Bagian E

Dampak Pengangguran Terhadap Perekonomian

  • Penurunan Pendapatan Per Kapita: Menurunkan standar hidup dan tingkat kemakmuran masyarakat.
  • Menurunkan Penerimaan Negara: Berkurangnya potensi penerimaan pajak penghasilan (PPh).
  • Beban Psikologis dan Sosial: Meningkatnya tingkat kemiskinan, tingginya angka kriminalitas, serta masalah kesehatan mental.
  • Menurunkan Efisiensi Ekonomi: Sumber daya manusia potensial terbuang sia-sia (deadweight loss produksi).